roda pedati mulai berputar,
mulai maju seiring empat kaki penariknya,
berkelok seiring arah tali kekang,
menghentak seiring kaki penariknya.
perlahan namun pasti
tuk, tak, tik, tuk, tak, tik ….
maju dengan langkah pasti,
meski tanpa arah yang menentu,
bak melangkahi gurun pasir,
tanpa pandu tanpa patokan,
hanya melangkah saja tanpa henti,
hingga entah kapan lelah melanda.
roda pedatiku tak lagi muda,
nyata dalam suara gesekan kayu-kayunya,
roda terkadang terpendam dalam pasir,
terkadang mulus berputar,
ada kalanya pula terjerembab dalam lubang,
tersendat putaranya beberapa saat,
hingga terbuang tenaga kuda penariknya.
pedatiku entah sampai kapan berlalu,
mampu tuk lawan badai pasir membutakan,
kuat melangkahi panas teriknya dunia,
sanggup temukan arah tujuannya sendiri,
yang pasti hanya ada tiga didalamnya ….
kulangkahkan semampunya pedati tua ini,
kuarahkan kuda penariknya semampuku,
kujaga as roda pedatiku tak rusak…
Kelana Gila, Bali
[11/08/09]
Filed under: Asa Dalam Hidup